Nama : Anisah
Npm : 11214299
KRL JABODETABEK
DARI MASA KE MASA
DARI MASA KE MASA
Barangkali
masih lekat dalam ingatan kita saat penumpang kereta rel listrik (KRL) berebut
naik ke atap kereta. Itu pemandangan mengerikan yang terjadi bertahun-tahun
lamanya. Tak hanya
itu, ingatkah Anda ketika penumpang dengan bebasnya bisa membeli gorengan atau
sekadar membeli penjepit rambut dari dalam gerbong kereta? Ada pula pengamen
yang memainkan gitar dan bernyanyi dari gerbong satu ke gerbong lainnya ketika
itu.Kini,
suasana semacam itu tak lagi terasa.
PT Kereta Api Indonesia yang menginjak
usia 72 tahun pada 28 September 2017 telah membenahi pelayanan KRL secara
bertahap. PT KAI
menghadirkan layanan KRL commuter line yang semua gerbongnya
dilengkapi pendingin ruangan dan kursi yang empuk. Sistem pembelian tiket juga
tak lagi menggunakan kertas.Tak dapat
dipungkiri, KRL merupakan transportasi massal yang menjadi andalan warga di
Jabodetabek. Seperti apa tahap demi tahap perubahan yang terjadi dalam layanan
KRL Jabodetabek? Mari ikut perubahan wajah KRL dari masa ke masa.
TAHUN 1925
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Kereta api
dengan lokomotif listrik pertama buatan Belanda mulai beroperasi di Jakarta
pada 1925 sampai 1976. Lokomotif listrik ini bernama Electrische Staats
Spoorwegen (ESS) atau Lokomotif Djokotop. Kereta tersebut juga dikenal dengan
nama Lokomotif Bonbon. Saat ini
Lokomotif Djokotop dipelihara di Balai Yasa Manggarai, Jakarta Selatan, dan
hanya difungsikan untuk kegiatan tertentu.
Sistem
perkeretaapian pada tahun 1925 menjadi cikal bakal perkembangan KRL hingga saat
ini. Sejak tahun 1925, elektrifikasi jalur kereta api mulai dibangun di
Jabodetabek.
TAHUN 1976
Dok. PT KCI
Kereta
lokomotif listrik digantikan KRL dari Jepang.
TAHUN 1976 - 2006
Dok. PT KCI
Para
penumpang masih naik ke atas atap KRL ekonomi. Mereka berebut memanjat ke atap
gerbong lewat jendela. Pedagang juga bebas berjualan di dalam gerbong kereta.
TAHUN 1976 - 2013
Dok. PT KCI
Kondisi
peron di sejumlah stasiun yang masih dipenuhi pedagang. Para pedagang bebas
berjualan, bahkan menggelar pasar tumpah di bantaran rel.
Stasiun II:PERUBAHAN
WAJAH KERETA DAN STASIUN
Dok. PT KCI
23 Maret 2009: Pembenahan
layanan KRL Jabodetabek diawali dengan pembelian 8 unit kereta AC pertama seri
8500 yang kemudian dibentuk menjadi satu rangkaian KRL. Saat itu, rangkaian KRL
pertama ini dikenal dengan nama Jalita, akronim dari Jalan-jalan Lintas
Jakarta.
19 Mei 2009: PT KAI
membentuk anak perusahaan yang khusus mengoperasikan KRL AC. Anak perusahaan
ini diberi nama PT KAI Commuter Jabodetabek atau KCJ. Tahun 2017, KCJ berganti
nama menjadi PT KAI Commuter Indonesia (PT KCI).
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
2 Juli 2011: Pola single
operation mulai diterapkan. Pada pola ini, semua KRL AC, termasuk KRL
ekspress mulai dilebur menjadi satu layanan yang diberi nama KRL commuter
line. KRL commuter
line wajib berhenti di setiap stasiun. Sebelum pola ini diterapkan,
KRL ekspress hanya berhenti di beberapa stasiun.
5 Desember 2011: Pola
operasi loop line mulai diterapkan. Pada pola ini terdapat
penyederhanaan rute KRL dan mulai diterapkannya sistem transit.
Dengan
diterapkannya pola operasi loop line ini, tidak ada lagi KRL
dari Bogor yang langsung ke Tangerang, ataupun KRL dari Serpong yang langsung
ke Bekasi.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Desember 2012: Mulai
dilakukan penertiban terhadap keberadaan kios-kios pedagang liar di area
stasiun, baik di peron maupun halaman stasiun. Penertiban yang dilakukan secara
bertahap di seluruh stasiun di wilayah Jabodetabek ini tercatat berlangsung
hingga pertengahan 2013.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
25 Juli 2013: Layanan
KRL ekonomi di semua relasi dihapuskan sehingga seluruh perjalanan KRL di
wilayah Jabodetabek dilayani oleh KRL commuter line. Seiring
“hilangnya” KRL ekonomi, penumpang pun tak ada lagi yang naik ke atap kereta.
Stasiun III:PERUBAHAN
LAYANAN TIKET
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
1 Juli 2013: PT KCJ
menerapkan sistem tiket elektronik. Tiket elektronik ini menggantikan tiket
kertas yang sebelumnya digunakan.
Ada dua
jenis tiket elektronik, yakni kartu single-trip untuk satu
kali perjalanan dan kartu multi-trip (KMT) yang dapat
digunakan untuk beberapa perjalanan selama saldo mencukupi.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
22 Agustus 2013: PT KCJ
memberlakukan uang jaminan Rp 5.000 pada kartu single-trip. Hal ini
dilakukan menyusul banyaknya kartu single-tripyang tidak
dikembalikan sehingga membuat PT KCJ merugi.
Penerapan
uang jaminan juga membuat istilah kartu single-trip diubah
menjadi tiket harian berjaminan atau THB.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
September 2015: PT KCJ
mulai mengembangkan jenis tiket yang biasa digunakan pelanggan. Tidak hanya
kartu, tiket juga berbentuk gelang, stiker, dan gantungan kunci.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Januari 2016: PT KCJ
menyediakan vending machine untuk mengurangi transaksi di loket. Dengan adanya
mesin ini, penumpang bisa membeli tiket secara mandiri. Mesin ini dapat
melayani semua transaksi, mulai dari pengisian saldo KMT, pembelian, dan
pengembalian THB.
Stasiun IV:PENGEMBANGAN
KERETA
Dok. KOMPAS.com
Januari 2016: Integrasi
KRL dengan layanan bus transjakarta diawali di Stasiun Tebet, Manggarai, dan
Palmerah. Dengan begitu, penumpang bisa naik transjakarta untuk menuju stasiun
tersebut.
Dok. KOMPAS.com
2020: Rencananya,
pemerintah akan mengembangkan sistem transit oriented development (TOD).
KRL akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya yang berbasis kereta,
yakni MRT, LRT, dan kereta bandara. Selain itu, KRL terintegrasi dengan
transjakarta.
Stasiun V:APA
KATA MEREKA?
Bagi
sebagian orang, KRL menjadi moda transportasi andalan dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari. Perubahan pelayanan KRL juga memberi kesan tersendiri
bagi mereka. Apa kata mereka tentang wajah KRL kini?
Dok. Pribadi
Helmi
Livianto Humas Komunitas Edan Sepur Indonesia
“Dulu kan
tanpa AC, semuanya masuk, terus pintunya tertutup. Terus di dalamnya kereta itu
ya ada pedagang mondar-mandir. Bermacam-macam orang di sana. Sebenarnya enak
juga ya sambil jalan bisa sambil jajan murah-murah, tapi gimana ya kesannya
terlalu kumuh. Kalau sekarang? Ya lebih nyaman. Tapi ya karena penumpang sangat
banyak, sekitar 1 juta penumpang. Jadi memang sekarang orang lebih banyak
beralih ke KRL.”
Dok. Pribadi
Nova
Prima Ketua Umum Komunitas Indonesia Preservation Railway Society (IPRS)
“Ketika ada
yang mengeluh wah (kereta) penuh atau apa ya, kondisi itu wajar karena
penambahan kereta itu kan enggak secepat penambahan orang. Penambahan orang ini
kan enggak dihitung dari lahir, tapi dari urbanisasi, perpindahan penduduk.”
Stasiun VI:TAHUKAH
KAMU?
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Bangunan Stasiun Jakarta Kota sejak 1926
Konstruksi
bangunan Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat, tidak pernah berubah sejak
direnovasi pertama kali pada 1926. Sebab, Stasiun Jakarta Kota telah ditetapkan
sebagai cagar budaya.
Konstruksi
bangunan Stasiun Jakarta merupakan perpaduan struktur dan teknik modern barat
dengan bentuk-bentuk tradisional.
Perawatan
Stasiun Jakarta Kota dilakukan oleh unit khusus yang menangani bangunan cagar
budaya yang ada di PT KAI Indonesia. Sementara itu, perawatan yang dilakukan
pengelola stasiun hanya perbaikan hal-hal kecil, seperti kerusakan keramik,
atap, dan lainnya.
"Konstruksi
bangunan tidak ada perubahan. Kalau perubahan harus ada penelitian karena cagar
budaya itu," ujar Wakil Kepala Stasiun Jakarta Kota Jaja Raharja.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Stasiun Tanjung Priok Punya ‘Saudara Kembar’ di Belanda
Stasiun
Tanjung Priok, Jakarta Utara, disebut memiliki "kembaran" di Belanda.
Konstruksi bangunan Stasiun Tanjung Priok dengan salah satu stasiun di negeri
kincir angin memiliki kemiripan.
"Stasiun
ini memiliki 'saudara kembar' di Belanda. Bangunannya sama persis, ini yang
cerita ahli sejarah," Kepala Stasiun Tanjung Priok Suharyanto.
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Sama seperti
Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok juga telah ditetapkan sebagai cagar
budaya. Pengelola stasiun hanya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil yang
tidak mengubah konstruksi bangunan stasiun.
"Bangunan
stasiun enggak ada yang berkurang. Penambahan toilet saja susah karena takut
nanti mengubah bentuk aslinya," kata Suharyanto.
Dok. PT KCI
Berbagai Cara Menurunkan Penumpang dari Atap KRL
Dulu, atap
kereta selalu dinaiki penumpang. Berbagai cara dilakukan PT KAI hingga kini atap
kereta steril dan aman.
Cara yang
diterapkan antara lain menuangkan oli di atap kereta, memasang kawat berduri di
atas peron, menyemperotkan cat warna, memasang palang pintu koboi, memasang
bola besi penghalang, memanggil pemuka agama dan memutarkan rekaman dakwah,
serta menghadirkan penegak hukum untuk mendenda yang masih nakal.
"Mulai
berhasil ketika masinis dilarang memberangkatkan jika masih ada penumpang di
atap. Penumpang di dalam kereta sendiri yang akhirnya menurunkan penumpang di
atas agar kereta bisa jalan," Senior Manager Humas Daop 1 PT KAI Suprapto.
Tragedi Pilu dalam Sejarah
Perkeretaapian Indonesia
Dok. PT KCI
Tragedi Bintaro
I menjadi kecelakaan kereta terburuk sepanjang masa di Indonesia. Terjadi pada
19 Oktober 1987 dengan jumlah korban 156 tewas dan ratusan lainnya terluka.
Penuhnya
lokomotif saat itu jadi salah satu penyebab kecelakaan. KA 220 Patas Merak di
Stasiun Sudimara harusnya dilangsir.
Karena
lokomotif penuh penumpang dan masinis tidak bisa melihat semboyan yang
diberikan juru langsir, masinis pun bertanya kepada penumpang yang berada di
lokomotif, "Berangkat?" Penumpang yang tak mengerti semboyan kereta
menjawab, "Berangkat!"
Kecelakaan
kereta terburuk kembali terjadi di Bintaro pada 9 Desember 2013, ketika
KRL commuter line Serpong-Tanah Abang menabrak truk tangki
pertamina di pelintasan Pondok Betung.
Sesaat
sebelum kereta menabrak, Masinis Darman Prasetyo, Asisten Masinis Sofyan Hadi,
dan Teknisi Kereta Agus Suroto mengevakuasi penumpang di gerbong 1 dan 2.
Mereka tewas karena tak ikut menyelamatkan diri bersama penumpang.
Nama
ketiganya diabadikan menjadi Balai Pelatihan dan Balai Pendidikan. Prasasti wajah
mereka juga dibangun di Stasiun Tanah Abang.
Sumber : vik.kompas.com
Analisis :
1. Statiun Bebas Asap Rokok dan Pedagang Kaki Lima
1. Statiun Bebas Asap Rokok dan Pedagang Kaki Lima
Keriuhan tampak di gerbong-gerbong kereta tak ber-AC. Pedagang asongan
berteriak-teriak dari gerbong ke gerbong menjajakan penganan, mainan, atau
alat-alat rumah tangga. Teriakan para pedagang itu bersaing dengan nyanyian
pengamen --kadang seorang diri, kadang berombongan layaknya grup band.
Di sisi lain, tampak tak terganggu dengan polusi suara itu, pengemis
bermuka sendu menghampiri satu demi satu penumpang yang duduk sambil
menyorongkan tangan mereka yang terbuka. Ia menyelinap dengan lihai di antara
impitan manusia dalam gerbong.
Selayang pandang, gerbong kereta itu tak ubahnya pasar. Penumpang yang baru
berbelanja dari pasar membawa aneka rupa barang, termasuk ayam yang baunya
tercium ke sudut terjauh gerbong.
Pedagang, pengemis, penumpang dengan seabrek bawaan, membentuk kerumunan
manusia tak beraturan. Mereka, dengan keringat mengucur di tubuh, membuat
gerbong yang semula lega menjadi pengap.
Melihat orang-orang berjubel dalam gerbong, sebagian penumpang lelaki
mengambil inisiatif berbahaya: naik ke atap gerbong dan duduk di sana --dan
terus begitu sepanjang perjalanan. Kini, atapers tinggal kenangan. Bukan karena mati jatuh semua, tapi
karena mereka tak bisa dan tak punya kesempatan lagi untuk berlaga di atap bak
di film-film Hollywood.
Sekarang Tranformasi : Para penumpang kini mengantre tertib --meski sikut-sikutan kerap masih
terjadi jika kereta sedang penuh sesak.
Setidaknya, tidak ada manusia-manusia nekat duduk di atap gerbong atau
bergelantungan di pintu kereta. Sistem Commuter Line tegas: kereta tak jalan
jika ada pintu yang masih terbuka.
Sebagai “imbalan” atas pintu kereta yang tertutup rapat, gerbong dibuat
lebih nyaman dan dingin ber-AC --meski ini teori, dan faktanya masih ada
gerbong pengap bila penumpang berjubel, sampai jendela kereta diturunkan agar
udara segar bisa masuk.Apapun, suasana stasiun memang terlihat jauh lebih tertib. Peron-peron
bersih dari pedagang, menyediakan ruang lebih lapang bagi penumpang untuk
berdiri menunggu kereta.
Dan, sebagai “ganti” pedagang-pedagang asongan yang menghilang entah ke
mana itu, minimarket modern berdiri di dalam stasiun. Alfamart dan Indomaret
bahkan berdiri rukun berdampingan di Stasiun Bogor.
Untuk lebih memanjakan para penumpang, infrastruktur penunjang seperti
toilet dan musala pun kini dirawat dengan lebih bersih. Toilet di
stasiun-stasiun selalu tampak dijaga oleh petugas kebersihan. Seluruh peron
bahkan menjadi area bebas rokok.
2. Tiket Elektonik (E-Ticketing)
Mulai 1 Juli 2013, PT KCJ berinovasi dengan mengubah
tiket kertas menjadi tiket elektronik atau yang lebih dikenal dengan E-Ticketing.
Perubahan tiket kertas menjadi E-Ticketing tidak semata hanya mengubah bentuk
tiket saja, tapi juga mengubah tarif KRL yang sebelumnya tarif flat berdasarkan
rute kini menjadi tarif progresif (membayar sesuai jarak).
a. Tarif Progressif
Sistem tarif progresif ini terus diperbaiki agar lebih
adil, sehingga mulai 1 april 2015 tarifnya dihitung per kilometer, yakni
penumpang membayar Rp 2.000 untuk 25 Km pertama dan Rp 1.000 untuk setiap 10 Km
berikutnya.
b. Kartu Multi Trip (KMT)
Dalam melakukan perjalanan dengan KRL pada sistem
E-Ticketing, pengguna dapat memilih dua sistem pembayaran, yaitu Kartu Multi
Trip (KMT) dan Tiket Harian Berjaminan (THB).
KMT memberikan kemudahan bagi pengguna KRL Commuter
Line, karena tidak perlu lagi mengantre di loket namun dapat langsung masuk
stasiun kemudian tap in di gate elektronik. Pengguna hanya perlu ke loket untuk
isi ulang jika Saldo KMT-nya sudah dibawah saldo minimum yaitu Rp 11.000.
Para pengguna KMT juga dapat menikmati berbagai
keuntungan yang diberikan KCJ melalui customer loyalty program.
Keuntungan tersebut antara lain adalah hadiah langsung maupun hadiah undian
menarik dan hiburan dari sejumlah musisi ternama. D’Masiv dan Rio Febrian
pernah hadir di dalam KRL dan berbagi hadiah langsung bagi pengguna yang
memiliki KMT.
c. Tiket Harian Berjamin (THB)
Bagi mereka yang tidak rutin menggunakan KRL, dapat
memilih THB. Perbedaan pada THB adalah terdapat uang jaminan sebesar Rp 10.000
di luar tarif perjalanan yang digunakan pengguna KRL Commuter Line.
THB ini juga dapat terus digunakan kembali selama
pengguna melakukan isi ulang tarif dan tujuan perjalanannya dalam kurun waktu
tujuh hari sejak transaksi terakhir.
E-Ticketing Bikin Volume Penumpang Naik
250 Persen
4. Dulu Orang
bisa sembarangan masuk membawa apa saja, namun kini telah ada petugas yang
menjaga semuanya
5. Adanya Gerbong Wanita , kursi prioritas , petugas keberisihan di setiap pemberhentian terakhir dan juga di setiap stasiun sehingga krl selalu bersih .


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar