Tugas Ilmu Budaya Dasar
Nama : Anisah
Npm : 11214299
Kelas :1EA27
“Cerita
Budaya kedua Orang tua saya ”
Sebelum
saya menjelaskan secara detail kebudayaan orang tua saya . izinkan saya untuk
memperkenalkan diri .. Hay hay semua
Nama saya Anisah saya anak satu satunya
-- > tunggal atau sering dibilang semata wayang . saya lahir dari 2 orang yang sangat luar
biasa buat saya , Seorang yang membesarkan saya dengan kasih sayang dan
Perhatian yang penuh .
Yaa siapa lagi kalo bukan mamah dan bapak saya
, oke Nama bapak saya : herman à Asli sunda nah kalo mamah saya : Yusna Juwita asli Aceh , nah
heran kan kenapa bisa nikah ? sunda ke aceh kan jauh ?! nah ternyata mamah dan
bapak saya itu cinlok ( cinta lokasi ) di kerjaanya eyaaa !! namanya juga jodoh
. * jodoh pasti bertemu afgan sing
Nah
sekarang saya mau jelasin budaya bapak saya dulu nih !!
1.
Bapak -- > Budaya Sunda
Karakteristik Orang Sunda : Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah - tamah , murah senyum, lemah - lembut, dan sabar . ini benar sekali karna bapak saya tipe seperti ini .
Etos budaya
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masa Kerajaan Sunda . Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang jalan menuju ke utamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter , yang dapat diartikan "sembuh" (waras), baik, sehat (kuat), dan cerdas. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu di lestarikan .
Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun ada beberapa yang tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk kebaikan di alam semesta.
Nilai-nilai budaya
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan – kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh ; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan saling melindungi (saling menjaga keselamatan).
Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah nilai – nilai lain seperti kesopanan , rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua , dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara - upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong - royong untuk mempertahankannya.
-
Samba Sunda adalah grup
musik etnik Sunda yang populer
di Eropa
-
Budaya Sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya
adalah kesenian sisingaan, tarian khas Sunda,
wayang golek, permainan anak - anak, dan alat musik serta
kesenian musik tradisional Sunda yang bisanya
dimainkan pada pagelaran
kesenian.
-
Sisingaan adalah kesenian khas Sunda yang
menampilkan 2–4 boneka singa yang
diusung oleh para pemainnya sambil menari. Sisingaan sering digunakan dalam acara
tertentu, seperti pada acara khitanan.
-
Wayang golek adalah
boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita
perwayangan. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai
karakter maupun suara tokoh yang di mainkan.
-
Jaipongan adalah
pengembangan dan akar dari tarian klasik .
-
Tarian Ketuk Tilu , sesuai
dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat
musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.
-
Alat musik khas sunda yaitu, angklung , rampak kendang, suling,kacapi,goong,calung. Angklung adalah
instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung
juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
-
Rampak kendang adalah beberapa kendang (instrumen
musik tradisional Sunda) yang di mainkan bersama – sama secara serentak.
Nah sekarang waktunya bahas Budaya mamah yaitu à Aceh
Bahasa yang umum digunakan adalah Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.
Di sana hidup adat istiadat Melayu,
yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat bersendikan
hukum Syariat Islam. Penerapan syariat Islam di
provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri,
tepatnya sejak masa kesultanan, syariat Islam sudah meresap ke dalam diri
masyarakat Aceh.
Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama pun mendapat tempat yang terhormat. Penghargaan atas keistimewaan Aceh dengan syariat Islamnya itu kemudian diperjelas dengan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 menggenai Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. Dalam UU No.11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh, tercantum bahwa bidang al-syakhsiyah (masalah kekeluargaan, seperti perkawinan, perceraian, warisan, perwalian, nafkah, pengasuh anak dan harta bersama), mu`amalah (masalah tatacara hidup sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan pinjam-meminjam), dan jinayah (kriminalitas) yang didasarkan atas syariat Islam diatur dengan qanun (peraturan daerah).
Undang-undang memberikan keleluasaan bagi Aceh untuk mengatur kehidupan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Sekalipun begitu, pemeluk agama lain dijamin untuk beribadah sesuai dengan kenyakinan masing - masing. Inilah corak sosial budaya masyarakat Aceh, dengan Islam agama mayoritas di sana tapi provinsi ini pun memiliki keragaman agama.
Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil).
Seni tari Aceh juga mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri, dengan ciri-ciri antara lain pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat ritual bukan tontonan, kombinasinya serasi antara tari, musik dan sastra, ditarikan secara massal dengan arena yang terbatas, pengulangan gerakan monoton dalam pola gerak yang sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang , serta waktu penyajian relatif panjang.
Tari - tarian yang ada antara lain Seudati, Saman, Rampak, Rapai, dan Rapai Geleng. Tarian terakhir ini paling terkenal dan merupakan perpaduan antara tari Rapai dan Tari Saman.
Dalam bidang seni rupa, Rumoh Aceh merupakan
karya arsitektur yang dibakukan sesuai dengan tuntutan budaya waktu itu. Karya
seni rupa lain adalah seni ukir yang berciri kaligrafi. Senjata khas Aceh
adalah Rencong. Pada dasarnya perpaduan kebudayaan
antara mengolah besi (metalurgi) dengan seni penempaan dan bentuk. Jenis
rencong yang paling terkenal adalah siwah.
Suku bangsa Aceh menyenangi hiasan manik-manik seperti kipas, tudung saji, hiasan baju dan sebagainya. Kemudian seni ukir dengan motif dapat dilihat pada hiasan-hiasan yang terdapat pada tikar, kopiah, pakaian adat, dan sebagainya.
KEBUDAYAAN
Budaya Bercocok Tanam
Bercocok tanam yang dimulai sejak pembukaan lahan. Dalam hal ini, ada lembaga / instansi adat yang berwenang, yakni Panglima Uteuen yang dibawahi beberapa struktur adat lainnya seperti Petua Seuneubôk, Keujruen Blang, Pawang Glé, dan sebagainya.
Sistem pengelolaan hutan sebagai
lahan bercocok tanam, fungsi Petua Seuneubôk tak dapat dinafikan. Seuneubôk
sendiri maknanya adalah suatu wilayah
baru di luar gampông yang pada mulanya berupa hutan. Hutan tersebut
kemudian dijadikan ladang. Karena itu, pembukaan lahan seuneubôk harus selalu memperhatikan aspek lingkungan
agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi anggota seuneubôk dan lingkungan
hidup itu sendiri. Maka fungsi Petua Seuneubôk menjadi penting dalam menata
bercocok tanam, di samping kebutuhan terhadap Keujruen Blang.
Budaya Membuka Lahan Perkebunan
Bagi masyarakat Aceh terdapat sejumlah aturan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Kearifan masyarakat Aceh juga terdapat dalam larangan menebang pohon pada radius sekitar 500 meter dari tepi danau, 200 meter dari tepi mata air dan kiri-kanan sungai pada daerah rawa, sekitar 100 meter dari tepi kiri-kanan sungai, sekitar 50 meter dari tepi anak sungai (alue).
Pamali atau Pantangan
Selain itu, dalam adat Aceh dikenal pula sejumlah pantangan saat membuka lahan di wilayah seuneubôk. Pantangan itu seperti peudong jambô (mendirikan gubuk). Jambô atau gubuk tempat persinggahan melepas lelah sudah tentu ada di setiap lahan. Dalam adat meublang (bercocok tanam), jambô tidak boleh didirikan di tempat lintasan binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini ada makhluk halus penghuni rimba. Bahan yang digunakan untuk penyangga gubuk juga tidak boleh menggunakan kayu bekas lilitan akar (uroet), karena ditakutkan akan mengundang ular masuk ke jambô tersebut.
Ada pula pantang daruet yang maksudnya anggota seuneubôk dilarang menggantung kain pada pohon, mematok parang pada tunggul pohon, dan menebas (ceumeucah) dalam suasana hujan. Hal ini karena ditakutkan dapat mendatangkan hama belalang (daruet).
Selain itu, di dalam kebun (hutan)
juga dilarang berteriak-teriak atau memanggil-manggil seseorang saat berada di
hutan/kebun. Hal ini ditakutkan berakibat mendatangkan hama atau hewan yang
dapat merusak tanaman, seperti tikus, rusa, babi, monyet, gajah, dan
sebagainya.
Disebutkan pula bahwa dalam adat
Aceh terdapat pantangan masuk hutan atau hari-hari yang dilarang. Karena orang
Aceh kental keislamannya, hari yang dilarang itu biasanya berkaitan dengan
“hari-hari agama”.
Aceh juga mencatat sejumlah larangan atau pantangan dalam perilaku. Hal ini seperti memanjat atau melempar durian muda, meracun ikan di sungai atau alue, berkelahi sesama orang dewasa dalam kawasan seuneubôk, mengambil hasil tanaman orang lain semisal buah rambutan, durian, mangga, dll., walaupun tidak diketahui pemiliknya, kecuali buah yang jatuh. Larangan tersebut tentunya menjadi cerminan sikap kejujuran dalam kehidupan di bumi yang mahaluas ini.
Adat Bersawah
Dalam bersawah (meupadé), juga terdapat sejumlah ketentuan demi keberlangsungan kenyamanan dan keamanan bercocok tanam. Hal ini seperti hanjeut teumeubang watèe padé mirah. Maksudnya
adalah tidak boleh memotong kayu saat padi hendak dipanen. Kalau ini dilanggar, dipercaya akan mendatangkan hama wereng (geusong). Demi menghindari sawah sekitar ikut imbas hama wereng, bagi si pelanggar ketentuan itu dikenakan denda oleh Keujruen Blang.
Makanan atau
kuliner khas Aceh
1. Manisan pala
Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.
Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.
2. Sanger
Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.
Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya.
Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya,
apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan
jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di
kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas
jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat
nongkrong dari segala usia.
2.
Pisang Sale
Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk
kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah
satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai
makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak
dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah
Aceh.
Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang
di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan
/ pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya
dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan
rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita
ingin mencicipinya.
Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.
4. Kembang loyang
Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.
5. Lepat
Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi
dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun
pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng
dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di
sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa
(megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika di asapi dapat bertahan
sampai 2 minggu.
6. Rujak Aceh Samalanga
Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.
Sumber
:
peunajoh.tumblr.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar