Minggu, 09 November 2014

Tugas Ilmu Budaya Dasar 


Nama : Anisah
Npm : 11214299
Kelas :1EA27

“Cerita Budaya kedua Orang tua saya ”

Sebelum saya menjelaskan secara detail kebudayaan orang tua saya . izinkan saya untuk memperkenalkan diri ..  Hay hay semua Nama saya Anisah saya anak satu satunya  -- > tunggal atau sering dibilang semata wayang .  saya lahir dari 2 orang yang sangat luar biasa buat saya , Seorang yang membesarkan saya dengan kasih sayang dan Perhatian yang penuh .
 Yaa siapa lagi kalo bukan mamah dan bapak saya ,  oke Nama bapak saya : herman à Asli sunda nah kalo mamah saya : Yusna Juwita asli Aceh , nah heran kan kenapa bisa nikah ? sunda ke aceh kan jauh ?! nah ternyata mamah dan bapak saya itu cinlok ( cinta lokasi ) di kerjaanya eyaaa !! namanya juga jodoh . * jodoh pasti bertemu afgan sing
Nah sekarang saya mau jelasin budaya bapak saya dulu nih !!



1. Bapak -- > Budaya Sunda

Karakteristik  Orang Sunda :  Budaya  Sunda dikenal dengan  budaya yang sangat menjunjung  tinggi  sopan  santun.  Pada  umumnya  karakter  masyarakat  Sunda  adalah periang,  ramah - tamah ,  murah  senyum,  lemah - lembut,  dan  sabar .   ini  benar  sekali karna bapak saya  tipe  seperti  ini .

Etos budaya

Kebudayaan  Sunda termasuk  salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Kebudayaan  Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masa Kerajaan Sunda .  Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang  jalan menuju ke utamaan hidup.  Etos dan watak  Sunda  itu adalah  cageur, bageur, singer dan  pinter ,  yang dapat diartikan "sembuh" (waras),  baik,  sehat (kuat),  dan  cerdas. Kebudayaan  Sunda  juga  merupakan  salah  satu kebudayaan  yang  menjadi  sumber  kekayaan  bagi  bangsa  Indonesia  yang  dalam perkembangannya  perlu  di lestarikan .

 Sistem  kepercayaan  spiritual  tradisional  Sunda adalah Sunda Wiwitan yang  mengajarkan  keselarasan  hidup  dengan  alam. Kini,  hampir sebagian  besar  masyarakat  Sunda  beragama  Islam,  namun  ada  beberapa  yang  tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk kebaikan di alam semesta.

Nilai-nilai budaya

 Kebudayaan  Sunda  memiliki  ciri  khas  tertentu  yang  membedakannya  dari  kebudayaan –  kebudayaan  lain.  Secara  umum  masyarakat  Jawa  Barat  atau  Tatar  Sunda,  dikenal sebagai  masyarakat  yang  lembut,  religius,  dan  sangat  spiritual. Kecenderungan  ini  tampak  sebagaimana  dalam  pameo silih  asih,  silih asah  dan  silih asuh ; saling  mengasihi (mengutamakan  sifat  welas  asih), saling  menyempurnakan  atau  memperbaiki  diri (melalui pendidikan  dan berbagi ilmu), dan  saling  melindungi (saling  menjaga keselamatan).

 Selain  itu  Sunda  juga  memiliki  sejumlah  nilai – nilai  lain  seperti kesopanan ,  rendah  hati  terhadap  sesama,  hormat  kepada  yang  lebih  tua , dan menyayangi  kepada  yang  lebih  kecil. Pada  kebudayaan  Sunda  keseimbangan  magis  di pertahankan  dengan  cara  melakukan  upacara - upacara  adat  sedangkan  keseimbangan  sosial  masyarakat  Sunda melakukan  gotong - royong  untuk  mempertahankannya.

-          Samba Sunda  adalah  grup  musik etnik  Sunda  yang  populer di  Eropa
-          Budaya Sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian  sisingaan, tarian  khas  Sunda, wayang  golek, permainan  anak - anak, dan  alat  musik  serta  kesenian  musik tradisional  Sunda  yang  bisanya  dimainkan  pada  pagelaran  kesenian.
-          Sisingaan adalah  kesenian  khas  Sunda  yang  menampilkan 2–4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acara khitanan.
-          Wayang golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita perwayangan. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan.
-          Jaipongan adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik .
-          Tarian Ketuk Tilu , sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.
-          Alat musik khas sunda yaitu, angklung , rampak kendang, suling,kacapi,goong,calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
-          Rampak kendang adalah beberapa kendang (instrumen musik tradisional Sunda) yang di mainkan bersama – sama secara serentak.

Nah sekarang waktunya bahas Budaya mamah yaitu à Aceh

Bahasa yang umum digunakan adalah Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.
Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat bersendikan hukum Syariat Islam. Penerapan syariat Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa kesultanan, syariat Islam sudah meresap ke dalam diri masyarakat Aceh.

Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama pun mendapat tempat yang terhormat. Penghargaan atas keistimewaan Aceh dengan syariat Islamnya itu kemudian diperjelas dengan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 menggenai Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. Dalam UU No.11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh, tercantum bahwa bidang al-syakhsiyah (masalah kekeluargaan,  seperti  perkawinan, perceraian, warisan,  perwalian,  nafkah,  pengasuh anak dan harta bersama), mu`amalah (masalah tatacara hidup sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan pinjam-meminjam), dan jinayah (kriminalitas) yang didasarkan atas syariat Islam diatur dengan qanun (peraturan daerah).

Undang-undang memberikan keleluasaan bagi Aceh untuk mengatur kehidupan masyarakat  sesuai  dengan ajaran Islam. Sekalipun begitu, pemeluk agama lain dijamin untuk beribadah  sesuai dengan kenyakinan  masing - masing. Inilah corak sosial budaya masyarakat Aceh, dengan Islam agama mayoritas di sana tapi provinsi ini pun memiliki keragaman agama.

Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil).

Seni  tari  Aceh  juga mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri, dengan ciri-ciri  antara lain  pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat ritual bukan tontonan, kombinasinya serasi  antara tari, musik dan sastra, ditarikan secara massal dengan arena yang terbatas, pengulangan  gerakan monoton dalam pola gerak yang sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang , serta  waktu  penyajian relatif panjang.

Tari - tarian yang ada antara lain Seudati, Saman, Rampak, Rapai, dan Rapai Geleng. Tarian terakhir ini paling terkenal dan merupakan perpaduan antara tari Rapai dan Tari Saman.
Dalam bidang seni rupa, Rumoh Aceh merupakan karya arsitektur yang dibakukan sesuai dengan tuntutan budaya waktu itu. Karya seni rupa lain adalah seni ukir yang berciri kaligrafi. Senjata khas Aceh adalah Rencong. Pada dasarnya perpaduan kebudayaan antara mengolah besi (metalurgi) dengan seni penempaan dan bentuk. Jenis rencong yang paling terkenal adalah siwah.

Suku bangsa Aceh menyenangi hiasan manik-manik seperti kipas, tudung saji, hiasan baju dan sebagainya. Kemudian seni ukir dengan motif dapat dilihat pada hiasan-hiasan yang terdapat pada tikar, kopiah, pakaian adat, dan sebagainya.

KEBUDAYAAN

Budaya Bercocok Tanam

Bercocok tanam yang dimulai sejak pembukaan lahan. Dalam hal ini, ada lembaga / instansi  adat  yang  berwenang,  yakni  Panglima  Uteuen  yang  dibawahi  beberapa  struktur  adat  lainnya  seperti  Petua  Seuneubôk,  Keujruen  Blang, Pawang Glé, dan sebagainya.
Sistem  pengelolaan  hutan  sebagai  lahan  bercocok  tanam, fungsi  Petua Seuneubôk tak dapat dinafikan. Seuneubôk  sendiri maknanya adalah suatu wilayah baru di luar gampông  yang  pada mulanya berupa hutan. Hutan tersebut kemudian dijadikan ladang. Karena itu, pembukaan lahan seuneubôk  harus selalu memperhatikan aspek lingkungan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi anggota seuneubôk dan lingkungan hidup itu sendiri. Maka fungsi Petua Seuneubôk menjadi penting dalam menata bercocok tanam, di samping kebutuhan terhadap Keujruen Blang.

Budaya Membuka Lahan Perkebunan

Bagi masyarakat Aceh terdapat sejumlah aturan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Kearifan masyarakat Aceh juga terdapat dalam larangan menebang pohon pada radius sekitar 500 meter dari tepi danau, 200 meter dari tepi mata air dan kiri-kanan sungai pada daerah rawa, sekitar 100 meter dari tepi kiri-kanan sungai, sekitar 50 meter dari tepi anak sungai (alue).

Pamali atau Pantangan

Selain itu, dalam adat Aceh  dikenal  pula  sejumlah pantangan saat membuka lahan di wilayah seuneubôk. Pantangan itu seperti peudong jambô (mendirikan gubuk). Jambô atau gubuk tempat persinggahan melepas lelah sudah tentu ada di setiap lahan. Dalam adat meublang (bercocok tanam), jambô tidak boleh didirikan di tempat lintasan binatang buas atau tempat-tempat yang diyakini ada  makhluk  halus penghuni rimba. Bahan yang digunakan  untuk  penyangga gubuk juga  tidak boleh menggunakan kayu bekas lilitan akar (uroet), karena  ditakutkan akan mengundang ular masuk ke jambô tersebut.

Ada pula pantang daruet yang maksudnya anggota seuneubôk dilarang menggantung kain pada pohon, mematok parang pada tunggul pohon, dan menebas (ceumeucah) dalam suasana hujan. Hal ini karena ditakutkan dapat mendatangkan hama belalang (daruet).
Selain itu, di dalam kebun (hutan) juga dilarang berteriak-teriak atau memanggil-manggil seseorang saat berada di hutan/kebun. Hal ini ditakutkan berakibat mendatangkan hama atau hewan yang dapat merusak tanaman, seperti tikus, rusa, babi, monyet, gajah, dan sebagainya.
Disebutkan pula bahwa dalam adat Aceh terdapat pantangan masuk hutan atau hari-hari yang dilarang. Karena orang Aceh kental keislamannya, hari yang dilarang itu biasanya berkaitan dengan “hari-hari agama”.

Aceh juga mencatat sejumlah larangan atau pantangan dalam perilaku. Hal ini seperti memanjat atau melempar durian muda, meracun ikan di sungai atau alue, berkelahi sesama orang dewasa dalam kawasan seuneubôk, mengambil hasil tanaman orang lain semisal buah rambutan, durian, mangga, dll., walaupun tidak diketahui pemiliknya, kecuali buah yang jatuh. Larangan tersebut tentunya menjadi cerminan sikap kejujuran dalam kehidupan di bumi yang mahaluas ini.

Adat Bersawah

Dalam bersawah (meupadé), juga terdapat sejumlah ketentuan demi keberlangsungan kenyamanan dan keamanan bercocok tanam. Hal ini seperti hanjeut teumeubang watèe padé mirah. Maksudnya 
adalah tidak boleh memotong kayu saat padi hendak dipanen. Kalau ini dilanggar, dipercaya akan mendatangkan hama wereng (geusong). Demi menghindari sawah sekitar ikut imbas hama wereng, bagi si pelanggar ketentuan itu dikenakan denda oleh Keujruen Blang.


Makanan atau kuliner khas Aceh

1.      Manisan pala
Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi  yang sulit  dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh  para  pengusaha baru.

Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.


2.  Sanger
 

Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.

Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya. Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya, apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat nongkrong dari segala usia.

2.      Pisang Sale

Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah Aceh.

Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan / pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita ingin mencicipinya.

 Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.

4.  Kembang loyang

 Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.


5.  Lepat
Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa (megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika di asapi dapat bertahan sampai 2 minggu.

6.  Rujak Aceh Samalanga

Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.


Sumber :
peunajoh.tumblr.com
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar