Selasa, 03 April 2018

Tugas Manajemen Jasa "Transformasi KRL dari masa ke masa"



Nama : Anisah
Npm  : 11214299


KRL JABODETABEK
DARI MASA KE MASA

Barangkali masih lekat dalam ingatan kita saat penumpang kereta rel listrik (KRL) berebut naik ke atap kereta. Itu pemandangan mengerikan yang terjadi bertahun-tahun lamanya. Tak hanya itu, ingatkah Anda ketika penumpang dengan bebasnya bisa membeli gorengan atau sekadar membeli penjepit rambut dari dalam gerbong kereta? Ada pula pengamen yang memainkan gitar dan bernyanyi dari gerbong satu ke gerbong lainnya ketika itu.Kini, suasana semacam itu tak lagi terasa. 

PT Kereta Api Indonesia yang menginjak usia 72 tahun pada 28 September 2017 telah membenahi pelayanan KRL secara bertahap. PT KAI menghadirkan layanan KRL commuter line yang semua gerbongnya dilengkapi pendingin ruangan dan kursi yang empuk. Sistem pembelian tiket juga tak lagi menggunakan kertas.Tak dapat dipungkiri, KRL merupakan transportasi massal yang menjadi andalan warga di Jabodetabek. Seperti apa tahap demi tahap perubahan yang terjadi dalam layanan KRL Jabodetabek? Mari ikut perubahan wajah KRL dari masa ke masa.

TAHUN 1925
KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Kereta api dengan lokomotif listrik pertama buatan Belanda mulai beroperasi di Jakarta pada 1925 sampai 1976. Lokomotif listrik ini bernama Electrische Staats Spoorwegen (ESS) atau Lokomotif Djokotop. Kereta tersebut juga dikenal dengan nama Lokomotif Bonbon. Saat ini Lokomotif Djokotop dipelihara di Balai Yasa Manggarai, Jakarta Selatan, dan hanya difungsikan untuk kegiatan tertentu.
Sistem perkeretaapian pada tahun 1925 menjadi cikal bakal perkembangan KRL hingga saat ini. Sejak tahun 1925, elektrifikasi jalur kereta api mulai dibangun di Jabodetabek.
TAHUN 1976

Dok. PT KCI
Kereta lokomotif listrik digantikan KRL dari Jepang.

TAHUN 1976 - 2006


Dok. PT KCI
Para penumpang masih naik ke atas atap KRL ekonomi. Mereka berebut memanjat ke atap gerbong lewat jendela. Pedagang juga bebas berjualan di dalam gerbong kereta.
TAHUN 1976 - 2013


Dok. PT KCI
Kondisi peron di sejumlah stasiun yang masih dipenuhi pedagang. Para pedagang bebas berjualan, bahkan menggelar pasar tumpah di bantaran rel.
Stasiun II:PERUBAHAN WAJAH KERETA DAN STASIUN

Dok. PT KCI
23 Maret 2009: Pembenahan layanan KRL Jabodetabek diawali dengan pembelian 8 unit kereta AC pertama seri 8500 yang kemudian dibentuk menjadi satu rangkaian KRL. Saat itu, rangkaian KRL pertama ini dikenal dengan nama Jalita, akronim dari Jalan-jalan Lintas Jakarta.
19 Mei 2009: PT KAI membentuk anak perusahaan yang khusus mengoperasikan KRL AC. Anak perusahaan ini diberi nama PT KAI Commuter Jabodetabek atau KCJ. Tahun 2017, KCJ berganti nama menjadi PT KAI Commuter Indonesia (PT KCI).


KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
2 Juli 2011: Pola single operation mulai diterapkan. Pada pola ini, semua KRL AC, termasuk KRL ekspress mulai dilebur menjadi satu layanan yang diberi nama KRL commuter lineKRL commuter line wajib berhenti di setiap stasiun. Sebelum pola ini diterapkan, KRL ekspress hanya berhenti di beberapa stasiun.
5 Desember 2011: Pola operasi loop line mulai diterapkan. Pada pola ini terdapat penyederhanaan rute KRL dan mulai diterapkannya sistem transit.
Dengan diterapkannya pola operasi loop line ini, tidak ada lagi KRL dari Bogor yang langsung ke Tangerang, ataupun KRL dari Serpong yang langsung ke Bekasi.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Desember 2012: Mulai dilakukan penertiban terhadap keberadaan kios-kios pedagang liar di area stasiun, baik di peron maupun halaman stasiun. Penertiban yang dilakukan secara bertahap di seluruh stasiun di wilayah Jabodetabek ini tercatat berlangsung hingga pertengahan 2013.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
25 Juli 2013: Layanan KRL ekonomi di semua relasi dihapuskan sehingga seluruh perjalanan KRL di wilayah Jabodetabek dilayani oleh KRL commuter line. Seiring “hilangnya” KRL ekonomi, penumpang pun tak ada lagi yang naik ke atap kereta.




Stasiun III:PERUBAHAN LAYANAN TIKET

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
1 Juli 2013: PT KCJ menerapkan sistem tiket elektronik. Tiket elektronik ini menggantikan tiket kertas yang sebelumnya digunakan.
Ada dua jenis tiket elektronik, yakni kartu single-trip untuk satu kali perjalanan dan kartu multi-trip (KMT) yang dapat digunakan untuk beberapa perjalanan selama saldo mencukupi.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
22 Agustus 2013: PT KCJ memberlakukan uang jaminan Rp 5.000 pada kartu single-trip. Hal ini dilakukan menyusul banyaknya kartu single-tripyang tidak dikembalikan sehingga membuat PT KCJ merugi.
Penerapan uang jaminan juga membuat istilah kartu single-trip diubah menjadi tiket harian berjaminan atau THB.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
September 2015: PT KCJ mulai mengembangkan jenis tiket yang biasa digunakan pelanggan. Tidak hanya kartu, tiket juga berbentuk gelang, stiker, dan gantungan kunci.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Januari 2016: PT KCJ menyediakan vending machine untuk mengurangi transaksi di loket. Dengan adanya mesin ini, penumpang bisa membeli tiket secara mandiri. Mesin ini dapat melayani semua transaksi, mulai dari pengisian saldo KMT, pembelian, dan pengembalian THB.


Stasiun IV:PENGEMBANGAN KERETA



Dok. KOMPAS.com
Januari 2016: Integrasi KRL dengan layanan bus transjakarta diawali di Stasiun Tebet, Manggarai, dan Palmerah. Dengan begitu, penumpang bisa naik transjakarta untuk menuju stasiun tersebut.


Dok. KOMPAS.com
2020: Rencananya, pemerintah akan mengembangkan sistem transit oriented development (TOD). KRL akan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya yang berbasis kereta, yakni MRT, LRT, dan kereta bandara. Selain itu, KRL terintegrasi dengan transjakarta.


Stasiun V:APA KATA MEREKA?
Bagi sebagian orang, KRL menjadi moda transportasi andalan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Perubahan pelayanan KRL juga memberi kesan tersendiri bagi mereka. Apa kata mereka tentang wajah KRL kini?
Dok. Pribadi
Helmi Livianto Humas Komunitas Edan Sepur Indonesia
“Dulu kan tanpa AC, semuanya masuk, terus pintunya tertutup. Terus di dalamnya kereta itu ya ada pedagang mondar-mandir. Bermacam-macam orang di sana. Sebenarnya enak juga ya sambil jalan bisa sambil jajan murah-murah, tapi gimana ya kesannya terlalu kumuh. Kalau sekarang? Ya lebih nyaman. Tapi ya karena penumpang sangat banyak, sekitar 1 juta penumpang. Jadi memang sekarang orang lebih banyak beralih ke KRL.”

Dok. Pribadi
Nova Prima Ketua Umum Komunitas Indonesia Preservation Railway Society (IPRS)
“Ketika ada yang mengeluh wah (kereta) penuh atau apa ya, kondisi itu wajar karena penambahan kereta itu kan enggak secepat penambahan orang. Penambahan orang ini kan enggak dihitung dari lahir, tapi dari urbanisasi, perpindahan penduduk.”



Stasiun VI:TAHUKAH KAMU?


KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Bangunan Stasiun Jakarta Kota sejak 1926
Konstruksi bangunan Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat, tidak pernah berubah sejak direnovasi pertama kali pada 1926. Sebab, Stasiun Jakarta Kota telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Konstruksi bangunan Stasiun Jakarta merupakan perpaduan struktur dan teknik modern barat dengan bentuk-bentuk tradisional.
Perawatan Stasiun Jakarta Kota dilakukan oleh unit khusus yang menangani bangunan cagar budaya yang ada di PT KAI Indonesia. Sementara itu, perawatan yang dilakukan pengelola stasiun hanya perbaikan hal-hal kecil, seperti kerusakan keramik, atap, dan lainnya.
"Konstruksi bangunan tidak ada perubahan. Kalau perubahan harus ada penelitian karena cagar budaya itu," ujar Wakil Kepala Stasiun Jakarta Kota Jaja Raharja.

KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Stasiun Tanjung Priok Punya ‘Saudara Kembar’ di Belanda
Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, disebut memiliki "kembaran" di Belanda. Konstruksi bangunan Stasiun Tanjung Priok dengan salah satu stasiun di negeri kincir angin memiliki kemiripan.
"Stasiun ini memiliki 'saudara kembar' di Belanda. Bangunannya sama persis, ini yang cerita ahli sejarah," Kepala Stasiun Tanjung Priok Suharyanto.


KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung
Sama seperti Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Pengelola stasiun hanya memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil yang tidak mengubah konstruksi bangunan stasiun.
"Bangunan stasiun enggak ada yang berkurang. Penambahan toilet saja susah karena takut nanti mengubah bentuk aslinya," kata Suharyanto.

Dok. PT KCI
Berbagai Cara Menurunkan Penumpang dari Atap KRL
Dulu, atap kereta selalu dinaiki penumpang. Berbagai cara dilakukan PT KAI hingga kini atap kereta steril dan aman.
Cara yang diterapkan antara lain menuangkan oli di atap kereta, memasang kawat berduri di atas peron, menyemperotkan cat warna, memasang palang pintu koboi, memasang bola besi penghalang, memanggil pemuka agama dan memutarkan rekaman dakwah, serta menghadirkan penegak hukum untuk mendenda yang masih nakal.
"Mulai berhasil ketika masinis dilarang memberangkatkan jika masih ada penumpang di atap. Penumpang di dalam kereta sendiri yang akhirnya menurunkan penumpang di atas agar kereta bisa jalan," Senior Manager Humas Daop 1 PT KAI Suprapto.
Tragedi Pilu dalam Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Dok. PT KCI
Tragedi Bintaro I menjadi kecelakaan kereta terburuk sepanjang masa di Indonesia. Terjadi pada 19 Oktober 1987 dengan jumlah korban 156 tewas dan ratusan lainnya terluka.
Penuhnya lokomotif saat itu jadi salah satu penyebab kecelakaan. KA 220 Patas Merak di Stasiun Sudimara harusnya dilangsir.
Karena lokomotif penuh penumpang dan masinis tidak bisa melihat semboyan yang diberikan juru langsir, masinis pun bertanya kepada penumpang yang berada di lokomotif, "Berangkat?" Penumpang yang tak mengerti semboyan kereta menjawab, "Berangkat!"
Kecelakaan kereta terburuk kembali terjadi di Bintaro pada 9 Desember 2013, ketika KRL commuter line Serpong-Tanah Abang menabrak truk tangki pertamina di pelintasan Pondok Betung.
Sesaat sebelum kereta menabrak, Masinis Darman Prasetyo, Asisten Masinis Sofyan Hadi, dan Teknisi Kereta Agus Suroto mengevakuasi penumpang di gerbong 1 dan 2. Mereka tewas karena tak ikut menyelamatkan diri bersama penumpang.
Nama ketiganya diabadikan menjadi Balai Pelatihan dan Balai Pendidikan. Prasasti wajah mereka juga dibangun di Stasiun Tanah Abang.

Sumber : vik.kompas.com

Analisis :

1. Statiun Bebas Asap Rokok dan Pedagang Kaki Lima

Keriuhan tampak di gerbong-gerbong kereta tak ber-AC. Pedagang asongan berteriak-teriak dari gerbong ke gerbong menjajakan penganan, mainan, atau alat-alat rumah tangga. Teriakan para pedagang itu bersaing dengan nyanyian pengamen --kadang seorang diri, kadang berombongan layaknya grup band.
Di sisi lain, tampak tak terganggu dengan polusi suara itu, pengemis bermuka sendu menghampiri satu demi satu penumpang yang duduk sambil menyorongkan tangan mereka yang terbuka. Ia menyelinap dengan lihai di antara impitan manusia dalam gerbong.
Selayang pandang, gerbong kereta itu tak ubahnya pasar. Penumpang yang baru berbelanja dari pasar membawa aneka rupa barang, termasuk ayam yang baunya tercium ke sudut terjauh gerbong.
Pedagang, pengemis, penumpang dengan seabrek bawaan, membentuk kerumunan manusia tak beraturan. Mereka, dengan keringat mengucur di tubuh, membuat gerbong yang semula lega menjadi pengap.
Melihat orang-orang berjubel dalam gerbong, sebagian penumpang lelaki mengambil inisiatif berbahaya: naik ke atap gerbong dan duduk di sana --dan terus begitu sepanjang perjalanan.Kini, atapers tinggal kenangan. Bukan karena mati jatuh semua, tapi karena mereka tak bisa dan tak punya kesempatan lagi untuk berlaga di atap bak di film-film Hollywood.
Sekarang Tranformasi : Para penumpang kini mengantre tertib --meski sikut-sikutan kerap masih terjadi jika kereta sedang penuh sesak.


Setidaknya, tidak ada manusia-manusia nekat duduk di atap gerbong atau bergelantungan di pintu kereta. Sistem Commuter Line tegas: kereta tak jalan jika ada pintu yang masih terbuka.
Sebagai “imbalan” atas pintu kereta yang tertutup rapat, gerbong dibuat lebih nyaman dan dingin ber-AC --meski ini teori, dan faktanya masih ada gerbong pengap bila penumpang berjubel, sampai jendela kereta diturunkan agar udara segar bisa masuk.Apapun, suasana stasiun memang terlihat jauh lebih tertib. Peron-peron bersih dari pedagang, menyediakan ruang lebih lapang bagi penumpang untuk berdiri menunggu kereta.
Dan, sebagai “ganti” pedagang-pedagang asongan yang menghilang entah ke mana itu, minimarket modern berdiri di dalam stasiun. Alfamart dan Indomaret bahkan berdiri rukun berdampingan di Stasiun Bogor.
Untuk lebih memanjakan para penumpang, infrastruktur penunjang seperti toilet dan musala pun kini dirawat dengan lebih bersih. Toilet di stasiun-stasiun selalu tampak dijaga oleh petugas kebersihan. Seluruh peron bahkan menjadi area bebas rokok.
2. Tiket Elektonik (E-Ticketing)
Mulai 1 Juli 2013, PT KCJ berinovasi dengan mengubah tiket kertas menjadi tiket elektronik atau yang lebih dikenal dengan E-Ticketing. Perubahan tiket kertas menjadi E-Ticketing tidak semata hanya mengubah bentuk tiket saja, tapi juga mengubah tarif KRL yang sebelumnya tarif flat berdasarkan rute kini menjadi tarif progresif (membayar sesuai jarak).
a. Tarif Progressif
Sistem tarif progresif ini terus diperbaiki agar lebih adil, sehingga mulai 1 april 2015 tarifnya dihitung per kilometer, yakni penumpang membayar Rp 2.000 untuk 25 Km pertama dan Rp 1.000 untuk setiap 10 Km berikutnya.
b. Kartu Multi Trip (KMT)
Dalam melakukan perjalanan dengan KRL pada sistem E-Ticketing, pengguna dapat memilih dua sistem pembayaran, yaitu Kartu Multi Trip (KMT) dan Tiket Harian Berjaminan (THB).
KMT memberikan kemudahan bagi pengguna KRL Commuter Line, karena tidak perlu lagi mengantre di loket namun dapat langsung masuk stasiun kemudian tap in di gate elektronik. Pengguna hanya perlu ke loket untuk isi ulang jika Saldo KMT-nya sudah dibawah saldo minimum yaitu Rp 11.000.
Para pengguna KMT juga dapat menikmati berbagai keuntungan yang diberikan KCJ melalui customer loyalty program. Keuntungan tersebut antara lain adalah hadiah langsung maupun hadiah undian menarik dan hiburan dari sejumlah musisi ternama. D’Masiv dan Rio Febrian pernah hadir di dalam KRL dan berbagi hadiah langsung bagi pengguna yang memiliki KMT.
c. Tiket Harian Berjamin (THB)
Bagi mereka yang tidak rutin menggunakan KRL, dapat memilih THB. Perbedaan pada THB adalah terdapat uang jaminan sebesar Rp 10.000 di luar tarif perjalanan yang digunakan pengguna KRL Commuter Line.
THB ini juga dapat terus digunakan kembali selama pengguna melakukan isi ulang tarif dan tujuan perjalanannya dalam kurun waktu tujuh hari sejak transaksi terakhir.
E-Ticketing Bikin Volume Penumpang Naik 250 Persen
4. Dulu Orang bisa sembarangan masuk membawa apa saja, namun kini telah ada petugas yang menjaga semuanya
5. Adanya Gerbong Wanita , kursi prioritas , petugas keberisihan di setiap pemberhentian terakhir dan juga di setiap stasiun sehingga krl selalu bersih .

Kamis, 12 Oktober 2017

TUGAS 2 SOFSTKILL PERENCANAAN PESAN-PESAN BISNIS

          PERANCANAAN PESAN BISNIS

Perencanaan pesan bisnis adalah proses komposisi penyusunan pesan bisnis. Proses itu sendiri terdiri dari perencanaan tujuan audiens, ide, saluran; pengorganisasian ide; membuat draf, merangkai kata / kalimat / paragraph; dan merevisi.
Tujuan dalam perencanaan bisnis harus dievaluasi apakah tujuan realistis, waktu tepat, dan dapat diterima. Tujuan juga harus diuji apakah sesuai dengan kemampuan, ketepatan waktu dan orang, dan selaras dengan tujuan organisasi.
Untuk membuat perencanaan bisnis yang baik komunikator perlu melakukan analisis audiens. Caranya aadalah dengan mengembangkan profil audiens dan menganalisa pemuasan konsumen. Komunikator mengantisipasi rekasi audiens, memperkirakan jumlah, mengetahui hubungan komunikator dengan audiens apakah kenal atau tidak. Untuk pemuasan audiens komunikator perlu mengetahui kebutuhan informasi audiens. Pemuasan juga bisa dilakukan dengan motivasional dengan pendekatan argumentasi, rasional, dan emosi audiens. Pemuasan emosional digunakan untuk mengubah perilaku audiens. Akan tetapi ada hambatan yaitu audiens cenderung tidak mau berubah untuk hal baru.
Penentuan ide pokok untuk menemukan cara mencapai tujuan tertentu bisa dilakukan dengan brainstorming. Brainstorming dilakukan melalui beberapa cara : story teller tour, random list, CFR (Conclusion Finding Recommendation)Worksheet, question and answer chain, dan journalist approach.
Dalam seleksi saluran perlu dipertimbangkan beberapa hal yaitu tingkat kepentingan, formalitas, kompleksitas,kerahasian, emosi, biaya, dan harapan audiens.
Saluran lisan memiliki kelebihan cepat mendapat feedback dan menyampaikan pesan, audiens merasa nyaman, reaksi audiens terbaca, dan ekonomis. Bentuk saluran lisan adalah percakapan, wawancara, diskusi, seminar, lokakarya, pelatihan, pidato, dan presentasi. Saluran lisan informal itu tidak terstruktur tapi ide lancer. Saluran lisan formal terjadi saat RUPS, presentasi, dan penganugerahan. Alat Bantu yang digunakan adalah film, video, rekaman, LCD, dan slide.
Saluran tulisan memiliki kelebihan yaitu lebih teratur karena komunikator sempat merencanakan dan mengendalikan isi pesan. Bentuknya adalahsurat, memo, dan proposal.Setelah Memperoleh gambaran mengenai berbagai macam bentuk saluran komunikasi baik formal maupun informal langkah berikutnya adalah melakukan perencanaan pesan-pesan bisnis, yang mencakup pesan yang tertulis maupun lisan.
Perencanaan bisnis merupakan satu langkah strategis bagi pencaaian tujuan suatu organisasi secara menyeluruh. Pesan-pesan bisnis yang terencana dengan baik mempermudah pencapaian tujuan komunikasi. Makalah ini akan menjelaskan tentang perencanaan pesan-pesan bisnis yang difokuskan pada perencanaan pesan-pesan bisnis secara tertulis.
Perencanaan pesan-pesan bisnis terdiri dari :

1.      Penentuan Proses Komposisi
Penyusunan proses komposisi seperti halnya proses menciptakan lagu; merencanakan lagu, membuat aransemen dan menentukan musisinya hinnga melakukan revisi-revisi hingga lagu enak didengar. Begitu juga proses penyusunan pesan-pesan bisnis; perencanaan, pengorganisasian, dan revisi. Menyusun pesan bisnis yang menarik perhatian, mudah dibaca, dan mudah dipahami memerlukan kreativitas. Agar pesan bisnis efektif, diperlukan pemahaman terhadap proses penyusunan pesan bisnis. Proses penyusunan pesan bisnis umumnya terdiri atas tiga tahap sederhana, yaitu :
1). Perencanaan Pesan
Dalam tahap ini, ditentukan hal – hal yang mendasar dari suatu pesan yang akan dikomunikasikan. Secara rinci, tahap perencanaan tersebut meliputi :
·         Penentuan tujuan
·         Analisis audiens
·         Penentuan ide pokok
·         Pemilihan saluran dan media

2). Penyusunan Pesan
Setelah tahap perencanaan, selanjutnya ide/gaasan dituangkan ke dalam pesan tertulis. Tahap itu meliputi dua kegiatan, yaitu :
·         Mengorganisasikan pesan :
Organisasi dan komposisi erat kaitannya dengan penyusunan kata kalimat, dan paragraf perlu diperhatikan penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sederhana, mudah dimengerti, dan dilaksanakan.
·         Memformulasikan pesan

3). Revisi :Pesan yang telah disusun dikaji ulang untuk memastikan apakah ide/gagasan yang diungkapkan sudah memadai. Berbagai kegiatan pada tahap revisi pesan adalah :
·         Menyunting pesan
·         Menulis ulang
·         Memproduksi pesan
·         Mencetak pesan

2.      Penentuan Tujuan
     Tahap pertama dalam merencanakan suatu pesan bisnis adalah memikirkan maksud atau tujuan komunikasi. Untuk dapat melakukan hal itu, pertama anda harus menentukan tujuan yang jelas sesuai tujuan organisasi. Pesan bisnis dapat menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Pesan-pesan yang disampaikan kepada pihak lain hendaknya mampu menjaga dan meningkatkan citra perusahaan. Untuk dapat menciptakan good will, setiap pesan bisnis hendaknya memiliki tujuan yang jelas, dapat diukur, dan tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
Berikut ini tujuan-tujuan komunikasi bisnis, yaitu :
1.      Memberi informasi (informing)
Tujuan pertama dalam komunikasi bisnis adalah memberikan informasi yang berkaitan dengan dunia bisnis kepada pihak lain. Sebagai contoh, seorang pemimpin suatu perusahaan membutuhkan bebebrapa pegawai baru yang akan di tempatkan sebagai staf adminitrasi di kantor- kantor cabang yang ada.
2.      Membujuk atau persuasi (persuading)
Tujuan kedua komunikasi bisnis adalah memberikan persuasi kepada pihak lain agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik dan bener. Hal ini sering dilakukan, terutama yang berkaitan dengan negosiasi antara seseorang dengan orang lain dalam bisnis.
3.      Melakulakan kerjasama atau kolaborasi (kolaborating)
Tujuan ketiga dalam komunikasi bisnis adalah melakukan kolaborasi atau kerjasama bisnis antara seseorang dengan orang lain. Malalui jalinan komunikasi bisnis tersebut seseorang dapat dengan mudah melakukan kerjasama bisnis, baik dengan perusahaan domestik maupun perusahaan asing.
4.      Tujuan harus jelas
Penentuan tujuan yang jelas bagi suatu organisasi akan dapat membantu proses pengambilan keputusan yang mencakup antara lain :
o   keputusan untuk meneruskan pesan
o   keputusan untuk menanggapi audiens
o   keputusan untuk memusatkan isi pesan
5.       Cara menguji tujuan
Untuk menguji apakah suatu tujuan yang telah ditetapkan tersebut sudah baik atau belum perlu pengujian dengan empat pertanyaan berikut.
1.      apakah tujuan tersebut realistik
2.      apakah waktunya tepat
3.      apakah orang yang mengirimkan pesan sudah tepat
4.      apakah tujuannya selaras dengan tujuan orgsnisasi perusahaan



3.      Analisis Audiens
Analisis terhadap audiens sangat perlu dilakukan, audiens dalam studi komunikasi bisa
individu ataupun organisasi. Audiens biasanya memiliki pemahaman yang berbeda
beda atas pesan yang mereka terima. Bila suatu komunikasi telah memiliki maksud
dan tujuan yang jelas, langkah berikutnya adalah memperhatikan audiens yang akan
dihadapi.
1).  Mengembangkan Profil Audiens
Analisis terhadap Audiens yang sudah dikenal biasanya relatif lebih mudah dilakukan tanpa harus melalui penelitian yang rumit. Demikian juga, reaksi atas pesan yang dikrim kepada orang yang sudah dikenal pada umumnya bisa diperkirakan.
2). Mengenali penerima primer
Apabila penerima terdiri dari beberapa orang, perlu dikenali orang-orang terpenting yang berpengaruh atau bertindak sebagai pengambil keputusan.
3). Menetapkan jumlah dan komposisi audiens
Jumlah penerima juga memengaruhi pesan bisnis. Menulis pesan bisnis yang ditujukan hanya kepada satu orang akan berbeda dengan pesan bisnis yang ditujukan kepada banyak orang.
4). Mengukur Tingkat Pemahaman Audiens
Apabila penerima memiliki latar belakang yang sama pengirim , maka pada umumnya mereka dianggap memiliki p[emahaman yang relatif sama terhadap suatru pesan.
5). Memperkirakan reaki penerima
Cara mengorganisasikan pesan sangat tergantung pada reaksi yang diperkirakan akan dilakukan oleh penerima.
6). Memenuhi Kebutuhan Informasi Audiens
Pesan yang baik akan mampu memenuhi semua pertanyaan penerima . Memenuhi kebutuhan informasi penerima merupakan salah satu kunci sukses pesan bisnis. Ada lima pedoman yang perlu diperhatikan agar pesan bisnis mampu memenuhi kebutuhan informasi audiens, yaitu :
·         Temukan apa yang ingin diketahui audiens : Tidak semua audiens pandai mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya.
·         Antisipasi pertanyaan yang tidak diungkapkan :Informasi tambahan yang relevan perlu diberikan untuk mengantisipasi kebutuhan informasi yang tidak disadari oleh audiens.
·         Berikan semua informasi yang diperlukan oleh audiens : Ujilah kelengkapan pesan yang dikirim dengan berpedoman pada 5 W + 1 H (Who, What, Why, When, Where, dan How).
·         Pastikan bahwa informasi yang diberikan akurat: Dalam bisnis, ketepatan informasi harus dipastikan terlkebih dahulu sebelum membuat komitmen tertulis. Kaji ulang tanggal,jadwal, asumsi, perhitungan  matematika,atau keuangan untuk memastikan keabsahannya.
·         Tekankan gagasan yang paling menarik bagi audiens: Diantara beberapa gagasan yang disampaikan, lakukan penekanan pada gagasan yang paling menarik perhatian audiens.

7)Memuaskan kebutuhan emosional dan praktis Audiens : Pesan yang bbertujuan membujuk dan bekerja sama seringkali gagal mengubah keyakinan atau perilaku audiens. Hal pentingb yangb harus diingat bahwa pesan bisnis disampaikan kepada audiens yang juga melakukan kegiatan bisnis. Untuk mencapai tujuan komunikasi, diupayakan agar pesan bisnis menggunakan pendekatan emosional audiens, terstruktur, rasional, serta disusun dengan format yang menarik.

4.      Penentuan Ide Pokok

Setelah menganalisis tujuan dan audiens, selanjutnya adalah menentukan cara mencapai tujuan tersebut. Setiap pesan bisnis akan bermuara pada satu tema pokok yaitu Ide Pokok.
Sebelum menentukan ide pokok hal – hal penting yang harus diidentifikasikan terlebih dahulu adalah :
1). Teknik Curah Pendapat
beberapa teknik curah pendapat yang dapat digunakan antara lain :
1.      storyteller’s tour
2.      random list
3.      cfr (conclusions findings recomendation) worksheet
4.      journalist approach
5.      quetion and answer approach

2). Pembatasan Cakupan
Penyajian informasi rutin terhadap audiens hendaknya menggunakan kata – kata yang singkat. Ide pokok dari pesan – pesan disesuaikan dengan waktu yang tersedia sehingga poin yang penting tidak terabaikan selain itu ide pokok yang disampaikan harus mudayh dimengerti dan diterima oleh audiens.
5. Seleksi Saluran dan Media
Pesan-pesan bisnis harus sesuai dengan situasi yang ada. Ide-ide dapat disampaikan melalui dua saluran, yaitu saluran lisan dan tertulis. Pilihan mendasar antara berbicara atau menulis tergantung pada tujuan atau maksud pesan, audiens dan karakteristik dari kedua saluran komunikasi tersebut.
·         Saluran komunikasi lisan
    Komunikasi lisan merupakan saluran yang palinhg banyak di gunakan dalam bisnis, komunikasi itu antara lain, percakapan antara dua orang secara langsung (tatap muka), melalui telpon, wawancara, pidato, seminar, pelatihan, dan presentasi bisnis. Saluran itu di sukai karna sederhana, spontan, nyaman, praktis, ekonomis dan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam memberikan umpan balik (feed back).
·         Saluran komunikasi tertulis
     Pesan-pesan tertulis dalam bisnis di buat dalam berbagai bentuk, misalnya surat, memo, proposal, dan laporan. Pilihan kata dalam pesan tertulis duilakukan dengan hati-hati untuk mempertahankan nada sopan dan bersahabat, kekurangannya adalah umpan balik secara langsung yang tidak bias di peroleh dengan waktu cepat.

Sumber :